Senin, 20 September 2010

realiti cinta rock n roll..

“Realita Cinta dan Rock ‘n Roll

Upi kembali akan menghadirkan sebuah film yang berjudul panjang, meramaikan kancah perfilman nasional. Film ketiga di awal tahun 2006 ini, setelah “9 Naga” dan “Garasi” juga bercerita tentang kehidupan anak muda.
Berbeda dengan filmnya yang berjudul “30 hari Mencari Cinta” yang menitik-beratkan pada kisah seputar anak muda saja, dalam film “Realitan Cinta dan Rock ‘n Roll” (RC&RR) ia memperkaya dunia anak muda itu dengan menampilkan problematik keluarga mereka masing-masing.
Menurut versi resminya, pernyataan dari sang sutradara, film ini bukan tentang anak band, bukan tentang cinta segitiga, bukan tentang broken home, melainkan tentang dua anak bengal menyikapi hidup mereka. Proses. Alhasil, semua unsur yang disebutkan oleh sutradara itu ada dalam “RC&RR” sebagai unsur dinamika kehidupan para karakter yang ditampilkan.
Kedua anak bengal itu adalah Nugi (diperankan oleh Herjunot Ali) dan Ipang (Vino G. Bastian). Keduanya masih duduk di bangku SMU. Kalau melihat akting mereka, kata yang paling pantas untuk menggambarkan kelakuan mereka di dalam kelas maupun luar kelas adalah bengal. Ada dua kosa kata yang menjadi kosa kata andalan mereka dalam berkomunikasi, maaf, “anjing” dan “taik”. Pemakaian kedua kata dalam percakapan di sebuah film dengan fasih, artinya memang itulah kata yang dipakai dalam percakapan anak muda sehari-hari, diawali oleh film “Mengejar Matahari” karya Rudi Soedjarwo. Tapi, dalam film “RC&RR” penonton masih akan terkejut-kejut mendengar kata itu diucapkan dengan demikian fasihnya oleh Nugi dan Ipang.
Dilihat dari masa edar, yaitu dimulai tanggal 2 Februari 2006, bukan tidak mungkin penonton akan menghakimi film ini sebagai pengekor film “Garasi”. Kisahnya sama-sama melibatkan dua cowok dan satu cewek. Kedua cowok itu bercita-cita menjadi pemain band rock ‘n roll. Masing-masing tokoh memiliki masalah keluarga masing-masing. Namun, sebagai penonton kita sebenarnya masih diajak untuk melihat sesuatu yang sama sekali berbeda. Masalah yang dihadapi oleh Nugi dan Ipang sebenarnya sangat berat. Bayangkan, bagaimana reaksi anak usia SMU ketika tahu bahwa ia adalah anak angkat dalam keluarganya? Bagaimana reaksi seseorang ketika tahu bahwa ayah yang meninggalkan keluarga ketika ia berusia enam tahun ternyata telah menjalani operasi kelamin dan berubah menjadi wanita?
Sebagai anak bengal SMU, Vino memang sudah terlatih. Ia pernah tampil dalam karakter itu di “Catatan Akhir Sekolah” dan “Cinta Silver”. Di “RC&RR” tingkat kebengalannya bisa dibilang mencapai titik puncak. Dan sebagai anak bengal pada kenyataan sehari-hari, Ipang pun ia sangat sayang terhadap adik yang masih duduk di bangku SD. Akting Junot sebagai Nugi tidak kalah dengan Vino. Nadine Chandrawinata, sebagai pemeran Sandra, cukup bisa mengimbangi akting Junot dan Vino. Apalagi tertolong dengan kostum yang lumayan seksi. Tanpa bermaksud mengurangi bobot aktingnya, tapi harus diakui kostum Nadine secara tidak langsung membius penonton pria, paling tidak penulis, untuk mengiyakan penampilannya sebagai Sandra.
Penampilan Barry Prima dan Frans Tumbuan sebagai orangtua kedua anak bengal tersebut menambah bobot seni akting dalam film tersebut. Seperti juga Dorman Borisman dan Torro Margens dalam film “9 Naga”, Barry Prima dan Frans Tumbuan memperlihatkan perbedaan akting antara seorang aktor yang sudah matang dengan para pemain muda. Seperti halnya penampilannya sebagai supir taksi dalam film “Janji Joni”, kemampuan akting Barry Prima yang selama ini lebih dikenal sebagai bintang film laga dalam “RC&RR” harus diakui, dahsyat. Penonton akan shock melihat sisi lembut sang jagoan.
Dalam film ini, Upi memperkenalkan seorang pemain cilik yang memerankan karakter Dido, adik Ipang. Sebagai pemain yang sama sekali baru berurusan dengan kamera, Baron patut kita berikan acungan jempol.
Untuk kamera “RC&RR” digawangi oleh pengarah fotografi Agung Dewantoro. Selama ini ia lebih dikenal di dunia pembuatan film iklan. “RC&RR” adalah film layar lebarnya yang pertama. Terus terang, selama menonton penulis tidak terlalu terpaku pada teknik kamera karena asyik mengikuti alur cerita. Gambar-gambar yang diambil tidak mengganggu mata. Bahkan berulangkali melakukan teknik change focus dengan piawai ketika terjadi dialog antara dua orang, baik untuk frame wide shot maupun close up. Tidak memalukan bagi seorang yang belajar kamera secara otodidak.
Unsur yang paling mengganggu penulis dalam “RC&RR” adalah make up. Ada kesan make-up terlalu tebal, tidak alami seperti yang penulis rasakan ketika menonton film “9 Naga” maupun “Garasi”. Untuk koreografi perkelahian, harus diakui belum ada yang mengalahkan Rudi Soedjarwo dalam menampilkan perkelahian jalanan orang Indonesia. Untunglah “RC&RR” bukan film laga dan adegan perkelahian pun hanya terjadi satu kali… tampaknya lebih untuk mengingatkan penonton siapa Barry Prima sebenarnya. Begitu pula adegan kompetisi tari salsa gagal menampilkan ketegangan pertandingan tari itu sendiri, tapi tertolong oleh akting Barry Prima.
Secara keseluruhan, meski sebenarnya film yang berdurasi 105 menit ini menampilkan cerita yang cukup tragis, namun penonton akan selalu diajak tersenyum, bahkan tertawa melihat kebengalan Ipang dan Nugi. Apalagi soundtrack yang digawangi oleh Didit Saad sebagai music director membantu menghidupkan suasana pencarian jati diri Nugi dan Ipang melalui musik rock ‘n roll. Proses realita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar